I really need a shoulder to cry on! Dan itu aku dapetin di Risal! Iya... Risal.. sahabat terdekatku selama 9 tahun terakhir ini. Walaupun persahabatan kami sering on off, sering diwarnai salah paham, perbedaan pendapat dan pertengkaran... tetapi dia masih mau mendengar ceritaku. Dan aku nangis di pelukannya! Sungguh-sungguh menangis! Segala pertanyaan yang mengganjal hatiku, tumpah semua di hadapannya. Risal tidak menjawab, karena dia tahu aku tidak memerlukan jawaban! Dia cuma memeluk kepalaku erat! Dia membiarkan aku menangis sesungukan di dadanya. Dia cuma bilang : "boleh menangis, tapi hanya malam ini! Laki-laki itu tidak pantas mendapatkan air matamu!" Dan setelah itu, aku merasa plong banget! Kemudian, Risal dah membuat aku tertawa...
Hm... Risal baik. Padahal sekitar 2 jam sebelumnya, dia juga baru menceritakan masalahnya, dan aku tahu bom waktu itu telah meledak! Dan aku membiarkan tangannya bergerak menggambarkan kegalauan dan kemarahannya. Persahabatan yang udah terlalu lama begini, membuat kami saling mengerti bagaimana memposisikan diri pada saat yang tepat. Pada saat dia bicara, aku cuma diam... mencoba menjadi pendengar yang baik. Dan itu juga yang dia lakukan pada saat aku bicara.
Tuhan, biarkan aku tetap memilikinya sebagai sahabat... sebagai teman baikku...