Monday, July 21, 2003

Sekitar 5 hari yang lalu, aku chatting, dan ngobrol ama salah seorang temen, yang diam-diam udah aku anggap sebagai adikku. Saling menanyakan kabar, karena lumayan lama kami nggak ketemu. Sampai dia cerita bahwa ibunya baru aja meninggal. Kata-kata berikutnya membuat aku hampir saja meneteskan airmata :¨ Ding takut mbak, kalo papa juga akan pergi¨

Aku terdiam, dadaku sesak, tak ada yang mampu ku tuliskan kecuali bahwa :"Pada akhirnya kita semua akan sendiri Ding¨ Cuma itu! Dan aku nggak tahu, apakah itu akan membuatnya kuat, atau justru membuatnya makin terpuruk dalam ketakutan!

Percakapan kami, membuat aku hingga saat kutuliskan ini- terus merenung.
Sesampai di rumah, orang tuaku sedang makan malam. Tuhan.... melihat mereka baru kusadari, betapa sesungguhnya aku sangat beruntung! Keberuntungan yang seringkali lupa aku syukuri! Betapa hari-hari ku cuma membuat mereka jengkel dan marah, cuma membuat mereka kecewa, padahal Allah sudah sangat berbaik hati memberikan waktu begitu panjang buat aku dan adik-adikku untuk menikmati kebersamaan kami.. tetapi mataku buta untuk melihat keberuntunganku itu. Semalaman aku menyesali diri, untuk semua kebiasaan burukku.

Pagi ini, suara ibu yang membangunkan kami untuk shalat subuh, mulai lagi terdengar. Aku tahu, kadang ibu jengkel dengan kemalasan kami. Tapi ibu tak pernah berlama-lama dalam kejengkelannya. Lima menit kemudian, bisa dipastikan kalo beliau sudah mulai menyiapkan teh manis dan susu buat adikku. Sementara Bapak, dengan gayanya, sudah membaca surat kabar pagi. Pagi ini, sesuatu yang selalu ku anggap biasa, seketika menjadi pusat perhatianku. Dulu ketika kami masih sekolah sampai kuliah, suasana rumah persis asrama. Berebut kamar mandi, jadi acara rutin tiap pagi. Perintah-perintah supaya kami cepat bergegas, sudah menjadi sarapan pagi kami. Kemudian, setelah tangan meraih ongkos yang sudah disiapkan Ibu di atas lemari es, kami berangkat setelah mencium tangan bapak dan Ibu serta mengucapkan salam. (Setelah kuliah, acara cium tangan sudah menjadi hal yang langka) Sekarang, saat kehidupan membuat kami menjauh dari rutinitas masa kecil dulu, aku rindu semuanya! Aku rindu adikku, aku rindu berebut tempat tidur, aku rindu suara berantem, aku rindu semuanya! Pagi ini, hingga aku pamit untuk pergi kerja, mataku mulai berkunang. Hmm?K kecerewetan dan rutinitas ini akan mampu membuat kami menangis karena rindu, jika saat nya tiba....

Siang ini, di kantor, di antara kesibukan dan file yang menumpuk, aku ingat mereka. Aku ingat kegalakan mereka seperti juga aku mengingat semua kasih sayang mereka. Aku ingat tuntutan mereka seperti juga aku mengingat perjuangan mereka. Aku ingat kemarahan mereka, seperti aku juga mengingat kegigihan mereka.. Aku ingat semuanya.. Dan itu cukup membuat aku menangis dalam hati....

Ohhh God.. sudah terlalu banyak waktu terbuang sia-sia. Tetapi keberuntungan masih tetap setia memperlihatkan andilnya dalam hidup ku. Dan keberuntungan terbesar dalam hidupku adalah : Aku masih memiliki mereka! Keluargaku! Lengkap!